Kamis, 10 September 2015

Untuk Pertama Kalinya, Otak Buatan Mulai Dikembangkan

otak buatan 890X395



Bagian tubuh manusia sudah sedemikian rupa diciptakan dengan fungsi mempermudah aktifitas manusia untuk tetap bertahan hidup. Otak, merupakan bagian tubuh terpenting bagi manusia, bisa dikatakan bagian ini merupakan motor penggerak yang terdapat di dalam kepala manusia.

Semakin hari, dunia sains dan teknologi terus menunjukan perkembangan yang signifikan, inovasi baru dan penelitian baru sering dilakukan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia seperti kloning yang muncul sebagai fenomena dalam dunia ilmu pengetahuan.

Baru-baru ini, Para ilmuwan dari Ohio State University mengatakan, sebuah otak yang hampir sepenuhnya buatan sedang dikembangkan di laboratorium untuk pertama kalinya. Otak buatan ini terbuat dari sel kulit manusia dewasa dengan ukuran sebesar kacang atau setara dengan otak yang dimiliki janin berusia 5 minggu.

Peneliti utama, Profesor Rene Anand, yang mempresentasikan data ini di sebuah simposium kesehatan militer di Fort Lauderdale, Florida, mengatakan, pihak mereka telah mereproduksi setiap bagian dari otak.

“Tak hanya terlihat seperti otak, ini mencerminkan semua gen yang membantu pembuatan otak dan itu berarti semua hal, mulai dari korteks hingga sumsum tulang belakang, semuanya ada,” ujarnya.
Meski demikian, otak buatan ini tak memiliki kemampuan untuk menjadi sadar dan Profesor Rene mengatakan, karena itulah, masalah etika tak akan muncul.

otak buatan 500X500“Ia tak memiliki masukan sensorik apa pun sehingga sebagian besar merupakan jaringan hidup yang mereplikasi otak. Ketika ada penyebab genetik atau lingkungan, kami bisa menilai bagaimana mereka mengubah migrasi sel, misalnya, atau pembentukan sinapsis atau pembentukan sirkuit,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Jadi, itu memberi kami akses yang luar biasa untuk mengetahui ketika sesuatu berjalan salah, seberapa besar salahnya, dan mungkin suatu hari kami akan mencari cara untuk memperbaikinya.”

Profesor Rene mengutarakan, otak buatan ini bisa memiliki dampak yang besar pada penelitian penyakit neurologis atau saraf dan akan mempercepat penelitian. Ia mengatakan otak buatan ini bisa membantu sejumlah kondisi, terutama alzheimer dan parkinson.



Sumber: Kompas.com

Image By: Google.com

Kini Ilmuwan Dapat Memprediksi Waktu Kematian

kematian 890X395



Kehidupan merupakan suatu anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Namun dapat dikatakan bahwa, kehidupan adalah kotrak sewa kehidupan yang mutlak dibayar dengan kematian. Karena sesuatu yang bernyawa dan hidup di dunia pasti akan mengalami kematian.

Kematian merupakan peristiwa paling sulit diprediksi bahkan mustahil untuk diprediksi oleh manusia karena itu adalah rahasia Tuhan dan hanya Ia lah yang dapat mengetahui kapan tiba waktunya suatu makhluk hidup menghadapi kematianya. Dan banyak sekali manusia sangat takut akan ajalnya karena kebanyak dari mereka belum puas hidup di dunia.

Baru-baru ini, lmuwan menemukan cara memperkirakan waktu kematian yang lebih akurat. Cara baru tersebut memungkinkan ilmuwan menetapkan waktu kematian hingga 10 hari setelah meninggalnya seseorang.

kematian 500X500Hasil temuan yang dikemukakan dalam pertemuan tahunan Society of Experimental Biologi di Praha,menyatakan itu merupakan terobosan berarti. Selama ini, waktu kematian ditetapkan dengan pengukuran suhu, yang hanya bisa akurat hingga 36 jam setelah meninggalnya seseorang.

Tim ilmuwan mempelajari protein otot pada babi. Berdasarkan karakteristiknya, otot babi memiliki kemiripan dengan otot manusia. Otot terdiri dari molekul-molekul protein yang akan mengalami penguraian ketika seseorang meninggal.

“Ini terjadi pada protein tertentu dan pada waktu tertentu,” kata Peter Steinbacher yang melakukan penelitian. “Bahkan produk dari penguraiannya itu hanya bisa dijumpai pada waktu tertentu.”

“Jadi, bila Anda tahu produk apa yang terdapat pada sebuah sampel, maka Anda akan tahu kapan individu tersebut meninggal,” ungkap peneliti dari University of Salzburg.
Steincbacher dan tim menganalisis lebih dari 60 sampel jaringan otot dari departemen forensik di University of Salzburg. Hasil riset menunjukkan, prediksi waktu kematian dengan analisis protein yang terdapat pada sampel cukup akurat.

“Kita sekarang butuh lebih banyak sampel untuk mengetahui apakah jender, indeks massa tubuh, suhu, kelembaban, dan lainnya memengaruhi waktu perombakan protein otot,” ungkap Steinbacher. Ia berharap dalam tiga tahun metode barunya bisa diaplikasikan dalam forensik.
Semoga penemuan dan penelitian serta pengemembangan bidang sains ini dapat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.


Sumber: Kompas.com, BBC

Image By: Google.com